AKU TERPAKSA MENIKAHIMU……

September 24, 2012 at 5:59 am (Uncategorized)

 

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku.

Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.

Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu., dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

 

Sumber

 

 

Permalink 1 Komentar

Saya pegawai dan Dia bosnya

April 18, 2011 at 7:06 am (Uncategorized)

Selain kita bekerja dikantor/perusahaan kita sekarang. Menurut saya kita semua masih mempunyai satu pekerjaan lagi yang begitu mulia, yaitu berbuat baik. Karena saya sebagai seorang muslim, atasan saya di dunia ataupun di akhirat adalah Tuhan saya ( Allah swt ). Buat saya selain pekerjaan saya di dunia, saya masih mempunyai satu pekerjaan lagi khusus untuk tabungan saya di akhirat, berbuat baik kepada semua orang. Mungkin ini terdengar aneh bagi sebagian orang tentang pekerjaan yg satu ini. Tapi mungkin ini pekerjaan yg paling baik di dunia ini dengan gaji atau balasan yg besar dan ketenangan hati yg luar biasa.  blm jadi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Seseorang yang hebat

Maret 26, 2011 at 8:38 am (pengetahuan)

Ini pengalaman saya dan 2 orang teman saya ketika sedang berada di Ciledug. Lebih tepatnya ditempat distro teman SMA saya. Sudah cukup lama saya tidak berkunjung kesana.  Saya senang melihat salah satu teman saya yang mulai merintis usaha, alhamdulillah sepertinya usaha teman saya ini berjalan baik. Awalnya saya cuma mengantar teman saya yang ingin membeli batik karena besok di kampus teman saya ada semacam seminar dan harus menggunakan batik.

Kami bertiga niatnya ingin langsung pulang, tapi karena baru sekitar jam 8 malam  salah satu teman saya mengusulkan ketempat distro teman saya. Yang tadi di bahas di awal tulisan ini.

Sesampainya disana pun kami ngobrol, bercanda tawa sama seperti dulu sewaktu masih sekolah. Saya suka itu, tidak ada yang berubah dari kami.  Lagi asyik2 ngobrol tiba2 gerimis. Dari kejauhan saya melihat seorang kakek dengan sepeda tua miliknya masih berkeliling menawarkan mainan tradisional dagangannya. Gerimis tak kunjung henti, salah satu teman saya menawarkan sang kakek untuk menedung. Tapi sang kakek menolak dengan Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

mulai sekarang ” HATI-HATI MENANYAKAN JAM !gannn”

Februari 21, 2011 at 2:56 am (iseng-iseng)

Dalam suatu kereta seorang pemuda bertanya pada seorang bapak
disampingnya, “Jam berapa sekarang Pak ? ”

Sungguh diluar dugaan , si Bapak diam saja , menoleh pun tidak. Mengira
sang bapak tidak mendengar, pemuda tsb. mengulanginya sampai 3 kali,
namun si Bapak diam tidak bergeming sedikitpun.

Merasa kesal , si pemuda akhirnya mencolek bapak tsb. dan berkata “Saya
heran mengapa bapak tidak menjawab pertanyaan saya ??, apa sih susahnya”
katanya sambil melengos.
Belum habis dia melengos, si bapak mulai berbicara “Bukannya saya nggak
mau menjawab, tapi nanti kalau saya jawab , kita pasti ngomong-ngomong
soal ini , soal itu , terus nanti kita jadi akrab”

Si pemuda melongo mendengar ceramah si bapak, ” Lalu apa salahnya kalau
kita akrab ?”
Si bapak menjawab “Nanti anak gadis dan istri saya akan menjemput saya
di Gambir, kalau kita sudah akrab, nanti kita akan turun sama -sama ,
terus saya pasti memperkenalkan mereka sama kamu. Nah, istri saya tuh
orangnya baik sekali sama semua orang , nanti dia pasti menawarkan kamu
mampir kerumah, nanti kamu mandi dirumah saya, terus makan dirumah saya
, kemudian kamu lama-lama bisa akrab dengan anak gadis saya dan kamu
bisa jadi pacar anak saya dan lama-lama kamu bisa jadi menantu saya.”

Sang pemuda yang tadi sudah bingung sekarang makin bingung, lantas dia
bertanya “Terus apa hubungannya dengan pertanyaan saya yang pertama ?”
Sambil berdiri dengan lantang bapak tersebut menjawab “Masalahnya anak
muda, SAYA TIDAK MAU PUNYA MENANTU SEPERTI KAMU, JAM TANGAN AJA NGGAK
PUNYA , BAGAIMANA MAU MEMBAHAGIAKAN ANAK SAYA ?? ”

Lho ? ….. jadi jam berapa sekarang, Pak ?

 

Sumber

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bahasa Indonesia, Peringkat Tersulit ke-3 di Asia dan ke-15 di Dunia

Februari 19, 2011 at 3:19 am (pengetahuan)

Tanpa kita sadari ternyata Bahasa Indonesia adalah Bahasa tersulit ke 3 di Asia. Seharusnya kita sangat bangga akan hal ini. 


 

Lebih lagi, ternyata bahasa Indonesia dipelajari di 45 negara lho!!. Walaupun dari segi yang lain Indonesia masih belum bisa berkata banyak, ternyata bahasa kita sudah lebih diakui dunia.

Banyaknya kebudayaan di Indonesia kerap kali membuat negeri-negeri lain iri dan ingin menelitinya, bahkan ada yang mengaku/mengklaim budaya itu miliknya (ga nyebut merek). Sebenarnya Indonesia bisa dibilang negara paling sempurna dari segi alam dan kebudayaannya. Semua ada di Indonesia, mulai dari ragam bahasa, budaya, kuliner, sumber daya alam, wisata, iklim, letak strategis, dll.

Berikut ada beberapa fakta bahwa kita harus bangga menggunakan bahasa Indonesia: Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ngaji

Februari 18, 2011 at 1:00 pm (kenang-kenangan)

Saya coba mengenang sedikit pengalaman saya waktu masih belajar mengaji. Saya sempat belajat mengaji kurang lebih 2 thn. Begitu banyak kenangan baik yg lucu maupun yg sedih. Ada beberapa yg menurut saya lucu dan bikin saya jengkel, salah satunya ketika saya baru ngaji 2 bulan ( klo g salah ) ada hapalan doa.  Kata guru saya, siapa yg tidak hapal harus menjilat jempol kaki saya. Huueekk, bayangin coba jilat jempol geli bgt tuh. Dengan penuh tekad dengan keras saya hapal doa itu. Tiba saat saya di panggil untuk maju ke depan menghapal doa tersebut, dan sialnya saya agak lupa di bagian tengah. Ampun dj, akhirnya di nobatkan menjilat jempol guru gaji saya. Tetapi saya sedikit senang karna saya tidak sendiri, ada 3 orang teman saya yg tidak hapal jg. Akhirnya saya pun menjilat jempol kaki guru ngaji saya dengan berat hati, suee bgt.

Adapun cerita sedihya seperti ini, ketika pelajaran tajwid guru saya memberi tugas mencari contoh salah satu hukum bacaan tajwid di Alquran dalam satu kalimat. Ketika yang lain sedang asyik mencari saya asyik ngobrol dengan teman saya. Kebetulan saya duduk bagian paling belakang. Sedang asyiknya ngobrol tiba2 ada yg datang dari arah Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

my pussy and pus pus

Februari 13, 2011 at 8:12 am (iseng-iseng)

Ini tentang teman kecil saya dirumah. Saya memiliki sepasang ekor kucing pejantan dan betina. Yang pejantan namanya Pus Pus, klo yang betina Pussy. Ini saya kasih foto kucing2 saya yg sedang tidur.

Pussy

 

Pus Pus

 

Saya pelihara mereka sejak dari orok. Mereka cukup penurut, apa lg klo belum di kasih makan kemanapun saya pergi selalu di ikuti. Saya sempat terkesan ketika pagi hari saya baru bangun tidur si Pussy sudah ada depan pintu kamar saya. Saya pun kaget pagi2 sudah ada di depan pintu kamar saya, felling saya pst belum di berikan makan ayah saya. Klo saya sedang tidak di rumah ayah saya yang memberikan mereka makan.

Pernah ketika saya pulang cukup larut malam. Saya melihat  Pus pus tidur di bangku depan rumah, biasanya dia tidur di belakang rumah berdua dengan Pussy.  Ketika saya datang pun dia langsung terbangun. Felling saya pasti dia belum makan, saya sempat bingung ketika saya melihat dia ada di depan rumah. Yang saya heran kenapa dia sampai tidur di depan rumah dan menungu saya pulang. Ketika terbangung pun dia langsung loncat ke atas motor dan mengaung seakan meminta makan. Kedua binatanglah ini yang menemani saya ketika saya sedang sendrian di rumah, entah sedang bt atau sedang ingin sendiri.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Selamat Tahun Baru

Desember 31, 2010 at 7:30 am (iseng-iseng)

Ga terasa 2011 tinggal mengitung jam..Tapi saya mw buru2 ngucapin neh. Biar ga keduluan orang lain 

Mumpung lg iseng ga ada kerjaan saya bikin gambar gif untuk ucapan selamat tahun baru. Klo pun jelek, harap maklum saya masih belajar.. cekidot :


Heppy New Year !!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

belajar membuat gambar gif

Desember 30, 2010 at 5:59 am (iseng-iseng)

Sewaktu saya lagi iseng ga kerjaan di tempat kerja. Saya melihat teman yang sedang membuat gambar gif. Melihatnya membuat, saya pun tertarik untuk belajar membuat. Karna bentar lagi tahun baru saya coba membuat untuk mengucapkan heppy new year. Karna saya masih newbie ( msih baru ), mohon maklum klo masih berantakan, masih harus banyak belajar. Saya pun langsung mencari gambar yang pas, ketika sudah dapat gambar yang pas lalu saya masukan semua gambar yang akan di jadikan gambar gif ke photoshop.

Ketika gambar sudah siap untuk di buat bergerak saya masukan

ke dalam Adobe ImageReady dan inilah hasilnya karya pertama saya.heheee… 

Klo pun masuh jelek harap maklum,heheee…  saya masih belajar, cekidot :

Permalink 2 Komentar

Sukhoi Su 35 BM

Desember 29, 2010 at 3:02 am (militer)

(kode NATO: Flanker-E) adalah pesawat tempur mutakhir yang digunakan oleh Angkatan Udara Federasi Rusia. Pesawat ini dikembangkan dari Su-27, dan awalnya diberi nama Su-27M. Pesawat ini dikembangkan untuk menandingi F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon.

Pesawat ini sendiri merupakan seri flanker terakhir dan merupakan pengisi kekosongan generasi antara generasi 4 dan generasi 5, bisa dimasukkan dalam generasi 4++.Pada tahun 2008 akan diadakan penerbangan perdana untuk ujicoba, pesawat ini memiliki kelebihan di kelincahan dan pergerakan diatas rata-rata.

Su-35 adalah versi canggih Sukhoi Su-27 , dan pada awalnya ditunjuk Su-27m. The-27m pengembangan Su dimulai pada awal 1980-an. A Su-27m prototipe (T-10S-70) pertama terbang pada tahun 1988.  Perubahan dari Su-27 termasuk canards , mesin upgrade, radar baru, dan lalat digital oleh sistem kontrol penerbangan kawat.Perubahan lain yang dibuat adalah kaca kokpit, probe pengisian bahan bakar udara, roda gigi hidung kembar, kuat radar lebih, dua tambahan underwing pylons, kapasitas bahan bakar tambahan, dan sirip ekor yang lebih besar dengan horisontal serat karbon tipsPrototipe pertama ditampilkan di depan umum pada tahun 1992 di Farnborough Airshow . Sukhoi berubah sebutan untuk pesawat tempur Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »