Dieng, pesona alam yang terlupakan..

Mei 20, 2010 at 2:24 am (pariwisata)


Dieng, pesona alam yang terlupakan
Welcome to Indonesia……

“Sungguh menakjubkan ketika saya tiba di dataran tinggi Dieng. Dipenuhi dengan tanaman kentang serta udara yang segar dan tenang. Dataran yang berada 2.100 m diatas permukaan laut membuat keindahan Dieng menjadi tempat untuk dinikmati bersama.” Papar Angelina Sondakh (Anggota DPR dari Partai Demokrat).

Begitulah kata2 yg pertama kali yang keluar ketika seseorang menginjakkan kaki di Dataran Tinggi Dieng (DTD). Tapi mengapa sekarang Dieng seolah seperti terlupakan? Padahal kalau di tinjau lagi banyak sekali potensi yang bisa diberdayakan disana. Berikut merupakan kutipan dan gambaran keadaan DTD :

Spoiler for monggo dinikmati:

Geografis
Dataran Tinggi Dieng merupakan dataran tinggi yang tertinggi kedua didunia setelah Nepal, dan yang terluas di Pulau Jawa. Dieng terletak pada posisi geografis 7’ 12’ Lintang Selatan dan 109 ‘ 54’ Bujur Timur, berada pada ketinggian 6.802 kaki atau 2.093 m dpl. Suhu udara rata-rata 15 C, pada bulan Juli-Agustus, suhu turun sampai dibawah 0 C. Secara administrative Kawasan Dieng terbagi menjdai dua kawasan yaitu, Kawasan Dieng Kulon (Dieng Barat) yang terletak di Kabupaten banjarnegara dan Kawasan Dieng Wetan (Dieng Timur) yang terletak diwilayah Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah.
Kawasan Dataran Tinggi Dieng merupakan sebuah kompleks gunung berapi dengan kerucut-kerucutnya terdiri dari Bisma, Seroja, Binem, Pangonan Merdada, Pagerkandang, Telogo Dringo, Pakuwaja, Kendil. Kunir dan Prambanan. Lapangan fumarola terdiri atas Kawah Sikidang, kawah Kumbang, kawah Sibanteng, Kawah Upas, Telogo Terus, Kawah Pagerkandang, Kawah Sipandu, Kawah Siglagah dan Kawah Sileri.

Geologi
Dataran Tinggi Dieng merupakan sebuah plateu yang terjadi karena letusan dasyat sebuah gunung berapi. Dengan demikian kondisi geologisnya samapai sekarang masih relative labil bahkan sering terjadi gerakan-geraka tanah. Beberapa bukti menunjukan hal tsb adalah, peristiwa hilangnya Desa Legetan, terpotongnya jalan antara Banjarnegara Karangkobar dan Sukoharjo Ngadirejo maupun retakan-retakan tanah yang mengeluarkan gas beracun seperti peristiwa Sinila.

Hidrologi
Di Kawasan Dataran Tinggi Dieng terdapat sumber mata air yang merupakan hulu dari Kali Serayu dgn sumber dari Bisma Lukar yang merupakan hulu dari kali Tulis dgn sumber air dati kaki Gunung Perahu
Sumber-sumber air di Kawasan Dataran Tinggi Dieng banyak dimanfaatkan oleh penduduk sekitar kawasan utuk pengairan areal pertanian.

Manusia dan Alam
Sumber Daya Manusia (penduduk) di Kawasan Dataran Tinggi Dieng berjurnlah 1.562.004 orang yang menempati areal kawasan seluas ± 1027.21 KM.

Sebagian besar penduduk Kawasan Dataran Tinggi Dieng terdiri dari Suku lawa Pegunungan, yang pada umumnya merupakan memeluk agarna Islam yang patuh dan taat. Meskipun demikian, mereka tidak menutup diri terhadap pengaruh modernisasi dalam kehidupan sehari hari, hanya mereka masih segan untuk melepaskan cara hidup tradisional seperti dalam acara adat Perkimpoian dan Khitanan.
Sedang letak astronomis ada pada sekitar 7,20º Lintang Selatan dan 109,92 º Bujur Timur dan pada ketinggian ketinggian ± 2.095m dpa. Mungkin kalau pada Google Earth bisa dimasukkan Latitude: -7,20 dan Longitude: +109,92.

*) Foto dari savedieng.org
Sebagian besar pendudluk Kawasan Dataran Tinggi Dieng hidup dari hasil pertaniannya. Namun demikian karena pesatnya kemajuan dalam perekonomian sekarang ini, maka sebagian dari mereka sudah mengalihkan mata pencaharian ke bidang lain seperti bidang perdagangan atau kepegawaian sebagai karyawan di Kantor kantor Pernerintahan.
Dengan meningkatnya tingkat kunjungan wisatawan domestik dan wisatawan asing di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, maka pada umumnya penduduk di sekitar daerah wisata ini mendapat keuntungan / penghasilan tambahan dari hasil pertanian ataupun bekerja pada perusahaan perusahaan yang melayani kepentingan wisatawan tersebut, seperti misalnya bekerja di hotel hotel, restoran dan lain-lain

*) Foto dari savedieng.org

Potensi Obyek dan Daya Tarik Wisata
Kawah
1. Pagerkandang
Bila dilihat morfologinya dapat disimpulkan sebagai bekas kawah gunung berapi yang berbentuk kerucut. Tubuh gunung telah runtuh akibat letusan dan punggung di sebelah utara sampai barat laut menjadi terbuka dan keluarlah bahan letusan. Kegiatan vulkanik
2. Kawah Sileri
Kawah tersebut merupakan cekungan yang terisi oleh bahan, letusan dari Pagerkandang (tahun 1944). Dari morfologinya terlihat bahwa kawah ini merupakan lubang peletusan pindahan dari Kawah Pagerkandang.
3. Kawah Sikidang
Merupakan lubang yang berupa solfatar (belerang) karena selalu berpindahpindah tempat clan airnya yang selalu mendidih.

*) Foto dari http://www.indonesia.go.ig

4. Kawah Candradimuka
Kawah ini bukan merupakan kawah gunung berapi, melainkan pemunculan solfatar dari rekahan tanah. Terdapat dua lubang pengeluaran solfatar yang masih aktif, salah satunya mengeluarkan solfatar terus menerus sedangkan yang lain secara berkala.

Telaga

1 . Telaga Merdada
Telaga Merdada dahulumerupakankepundan (kawah gunung berapi yang kemudian terisi air hujan) air dari telaga itu dapat dipergunakan untuk kebutuhanpencluduk Desa Karang Tengah
2. Telaga Sewiwi
Telaga ini bukan merupakan bekas kawah melainkan pemunculan air tanah dari bukit bukit sekitarnya ditambah air hujan, sehingga terjadilah telaga.
3.Telaga Balekambang
Terletak di Kompleks Candi Pendowo, untuk menghindari bahaya banjir yang dapat merusak candi candi, penduduk membuat saluran pembuangan air kesungaiDolok. Saluran tersebut diberi nama Gangsiran Aswatama.
4. Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Kedua telaga ini dulu merupakan satu telaga saja, karena terbendungnya Sungai Tulis oleh lava, maka telaga tersebut terpisahkan menjadi dua sampai sekarang.

*) Foto dari republika.co.id

5. Telaga Dringo
Nama Dringo didapat dari tumbuhnya dringo di sekeliling telaga tanpa ditanam orang. Telaga itu juga merupakan bekas kawah yang meletus pada tahun 1786.
6. Telaga Cebong
Telaga ini merupakan cekungan dikelilingi oleh perbukitan. Air tanah bukit bukit itumengisi cekungan tersebut. Air telaga digunakan untuk keperluan sehari hari oleh penduduk Sembungan.
7. Telaga Menjer
Merupakan telaga alam terluas di Kabupaten Wonosobo. Berada di ketinggian 1300 meter diatas permukaan laut, dengan luas 70 Ha dan kedalaman 45 meter. Telaga Menjer terletak didesa Maron Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo 12 km sebelah utara kota Wonosobo.

*) Foto dari http://www.e-wonosobo.com

Berwisata ke Dieng tidak akan lengkap jika tidak berkunjung ke komplek candi dieng.
Berdasarkan temuan Prasasti Situs Dieng diperkirakan dibangun abad VII – XIII Masehi. Sebagai kebaktian kepada Dewa Syiwa dan Sakti Syiwa ( istri Syiwa ). Dilihat dari 21 bangunan, situs Dieng dibagi menjadi 5 kelompok. Empat kelompok merupakan bangunan ceremonial Site ( tempat pemujaan ) yaitu :

1. Kelompok Candi Arjuna ( Pendawa 5 )
2. Kelompok Candi Gatut Kaca
3. Kelompok Candi Bhima
4. Kelompok Candi Dwarawati / Parikesit
5. Kelompok Candi Magersari

Dan kelompok kelima adalah bangunan tempat tinggal Setlement Site.

*) Foto dari http://www.e-wonosobo.com

Beberapa waktu yang lalu, presiden SBY berkesempatan untuk mengunjungi Dieng Plateau Theatre. Tempat ini merupakan Pusat Interpretasi potensi alam dan budaya kawasan Dataran Tinggi Dieng dibangun atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto diharapkan wahana wisata tersebut dapat menjadi magnit yang kuat untuk mengembangkan pariwisata di Propinsi Jawa Tengah. Dieng Plateu Theatre sebagai sarana edukasil, cultural pengenalan potensi wisata serta hiburan, dilengkapi dengan seperangkat peralatan audio visual (film) dan tempat duduk pengunjung berkapasitas seratus buah kursi. Terletak dilereng Bukit Sikendil di atas Taman Wisata Alam Telaga Warna Desa Dieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo.

*) Foto dari http://www.e-wonosobo.com

Bagi Anda yang ingin bertamasya ke Objek Wisata Alam dan Budaya di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, terdapat dua pilihan jalur kendaraan yang dapat digunakan. Berikut ini adalah Peta Petunjuk Arah menuju ke Kawasan Wisata Dieng.

Foto dari budpar-banjarnegara.com

Jalur wonosobo merupakan jalur favorit untuk menuju ke Dieng. Jika dibandingkan dengan jalur dari banjarnegara, jalur dari wonosobo relatif lebih pendek dan mudah untuk dijangkau serta jalan yang tidak terlalu berkelok.
Berikut merupakan akses untuk memasuki kota wonosobo :
Dengan kondisi alam yang sedemikian rupa, satau-satunya jenis angkutan untuk menuju Wonosobo hanyalah angkutan darat. Dahulu pernah ada kereta api jurusan Purwokerto, sekarang hanya tinggal rel-nya. Meskipun demikian, transportasi ke dan dari Wonosobo relatif ramai. Transporatsi dari luar kota dapat anda pilih, bis atau jenis travel. Namun banyak juga yang mencarter taxi dari Semarang atau Yogyakarta.

Dari Semarang (Ibu kota Provinsi)
Di terminal antar kota Terboyo banyak terdapat bis yang melayani trayek Semarang – Purwokerto melalui Wonosobo. Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Rutenya adalah :

(Semarang-Ungaran-Bawen-Ambarawa) – (Secang-Temanggung-Parakan) – (Kertek-Wonosobo)

Dari Surakarta (Solo)
Walaupun tidak banyak bis langsung dari Solo ke Wonosobo namun ada beberapa perusahaan bis yang melayani trayek ini. Anda dapat mendapatkan bis tersebut di terminal Tirtonadi jurusan Solo-Purwokerto via Wonosobo. Jaraknya sekitar 180 km waktu tempuhnya kita-kira 6 jam. Jalurnya adalah :

(Solo-Kartasura) – (Boyolali-Ampel) – (Salatiga-Bawen- Ambarawa) – (Secang-Temanggung-Parakan) – (Kertek-Wonosobo)

Dari Magelang
Jalur dari Magelang ini merupapakan jalur ke Wonosobo yang ramai. Kira-kira sepuluh menit sekali ada bis yang datang dan pergi. Bis terakhir kira-kira jam 19.00 berangkat dari terminal antar kota Magelang. Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh kira-kira 2 jam. Jalurnya adalah :

(Magelang-Secang) – (Temanggung-Parakan) – (Kertek-Wonosobo)

Disamping itu, ada rute alternatif ke Wonosobo dari Magelang ini, terutama untuk mempersingkat jalan dari Borobudur-Wonosobo. Ada trayek micro bis langsung dari Magelang ke Wonosobo namun tidak sampai di kota Wonosobo, melainkan hanya sampai di Sapuran, salah satu Kecamatan di Wonosobo. Dari Sapuran ke Wonosobo jaraknya 18 km dan banyak sekali angkutan yang siap melayani anda. Jalur Borobudur-Wonosobo ini sering dijadikan alternatif travel Borobudur – Wonosobo.

Dari Purworejo
Jalur dari purworejo tidak terlalu ramai, baik ramainya kendaraan maupun pemukiman. Jalannya cukup baik namun berbelak-belok cukup tajam dan menanjak. Tidak ada bis besar yang melayani trayek ini, tetapi banyak micro bis yang beroperasi. Sejak terminal Purworejo pindah ke terminal baru, bis jurusan Wonosobo tidak masuk di terminal antar kota Purworejo. Micro bis jurusan Wonosobo biasanya mangkal di terminal lama atau di Purworejo Plaza. Jika anda dari arah Yogyakarta, silahkan turun di pertigaan Don Bosko, naik angkota dan turun di terminal lama atau di komplek Purworejo Plaza. Jarak Purworejo-Wonosobo sekitar 50 km dan waktu tempuh sekitar 2 jam. Jalurnya adalah :

(Purworejo-Loano) – (Kepil-Sapuran-Kalikajar-Kertek-Wonosobo)

Jika anda naik kendaraan pribadi, harap hati-hati sebab jalur ini walaupun agak sempit, banyak truk yang biasanya mengangkut kayu.

Dari Yogyakarta
Tidak ada trayek langsung dari Yogyakarta ke Wonosobo. Namun karena jalur Yogyakarta – Magelang – Semarang sangat ramai, dengan sendirinya dari Yogyakarta ke Wonosobo menjadi sangat mudah. Dari terminal Umbulharjo, atau dari terminal Jombor, naik bis jurusan Magelang dan turun di terminal antar kota Magelang, baru ke Wonosobo. Total jarak sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Jalurnya adalah :

(Yogyakarta-Sleman-Tempel) – (Muntilan-Magelang)

Selanjutnya ikuti jalur dari Magelang.
Dari Yogyakarta ke Wonosobo, disamping lewat Magelang, anda juga dapat lewat jalur Purworejo. Dari Terminal Umbulharjo atau Nggamping, naik bis jurusan Purworejo dan baru melanjutkan ke Wonosobo. Total jarak sekitar 120 km dengan waktu tempuh sekitar 3.5 jam. Rutenya adalah :

(Yogyakarta-Sentolo-Wates) – (Purworejo). Selanjutnya ikuti jalur dari Purworejo

Dari Purwokerto
Merupakan jalur yang ramai. Ada banyak bis yang melayani trayek ini. Untuk jalur ini, kira-kira setiap sepuluh menit ada bis yang datang dan pergi. Ada bis yang hanya melayani trayek Purwokerto-Wonosobo dan ada trayek Purwokerto-Semarang lewat Wonosobo. Anda bisa mendapatkan bis jurusan Wonosobo di terminal utama Purwokerto. Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh sekitar 3 jam. Jalurnya sebagai berikut:

(Purwokerto-Sokaraja) – (Purbalingga-Bukateja) – (Klampok-Banjarnegara) – (Selomerto-Wonosobo)

Dari Kebumen
Meskipun masih langka, sebenarnya ada jalur langsung Wonosobo-Kebumen. Jalurnya berbelok-belok dan naik turun. Anda dapat mendapatkan bis jurusan Wonosobo-Kebumen di terminal antar kota Wonosobo namun hanya beberapa buah saja. Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh sekitar 2.5 jam. Jalurnya sebagai berikut :
(Kebumen) – (Wadaslintang-Kaliwiro-Selomerto-Wonosobo)

Dari Jabodetabek
Trayek Jabotabek Wonosobo dilayani oleh banyak armada yang terdiri dari berbagai perusahaan oto bis. Anda bisa mendapatkan bis tersebut di terminal: Pl Gadung, Kp Rambutan, Bekasi, Lebak Bulus, Cimone, Merak dan Bogor. Dengan jarak 520 km, dari sekitar wilayah Jakarta, bis biasanya berangkat sekitar pukul 17 wib dan sampai di Wonosobo menjelang fajar.

Sebelum memutuskan ke Dieng ada baiknya untuk mempersiapkan penginapan. Dikomplek Dieng memang telah tersedia Hotel dan penginapan, namun disarankan untuk bermalam di kota wonosobo untuk kemudahan akses. Wonosobo memiliki banyak hotel. Ada banyak pilihan, mulai dari hotel berbintang sampai hotel melati. Sebagian besar hotel-hotel ini terletak di dalam kota Wonosobo. Dengan demikian ketika menginap di hotel ini, anda dapat menikmati suasana kota Wonosobo sambil jalan-jalan. Berikut ini daftar hotel yang ada di Wonosobo dan kawasan Dieng. Untuk booking atau informasi lebih lanjut, silahkan hubungi hotel yang anda inginkan.

1 Kresna Bintang IV Jl. Pasukan Ronggolawe No. 30 324111
2 Surya Asia Bintang II Jl. A. Yani No.137 322992
3 Bhima Bintang I Jl. a. Yani 321233
4 Sri Kencana Bintang I Jl. A. Yani No. 81 321551
5 Parama Bintang I Jl. A. Yani No. 112 321788
6 Arjuna Bintang I Jl. Sindoro 321389
7 Dewi Bintang III Jl. A. Yani 321813
8 Kledung Pass Melati III Jl. Magelang Km 17
9 Nirwana Melati III Jl. Resimen 18 No. 36 321066
10 Duta Melati II Jl. R S U No. 3 321674
11 Petra Melati II Jl. A. Yani No.97 321447
12 Dieng Melati I JL. Bayangkara No. 39 322035
13 Asri Melati I Jl. Resimen 18 322476
14 Familiy Melati I Jl. Sumbing No. 16 321396
15 Pendawa Lima Melati I Jl. Resimen 18 No. 46 321257
16 Sindoro Melati I Jl. Sumbing No. 14 321179
17 Widuri Melati I Jl. Resimen 18 No. 44
18 Surya Melati I Jl. A. Yani No.6
19 Surabaya Melati I Jl. Raya Dieng 321181
20 Jawa Tengah Melati I Jl. A. Yani No. 62
21 Asri Dieng Melati I Jl. Telaga Warna, Dieng
22 Rahayu Melati I Jl. Resimen 18 No. 50 322431
23 Bu Djono Melati I Dieng
24 Lestari Melati I Dieng
25 Mandala Wangi Melati II Jl. Bambang Sugeng Km 4 Mendolo 321813
26 Dieng Plateau Melati II Jl. Raya Dieng No. 16
27 Slamet Melati I Jl. M. Bambang Sugeng –

Wisata belum lengkap tanpa membeli oleh-oleh. Wonosobo memiliki makanan dan minuman khas yang tidak dijumpai di wilayah lain. Makanan ini ‘wisata kuliner’ khas Wonosobo. Dengan udara yang bersih dan sejuk, makanan dan minuman terasa lebih enak.
Opak
Opak dibuat dari singkong rebus yang ditumbuk, diberi garam dan daun kucai, dibentuk tipis-tipis, dijemur lalu digoreng. Namun tidak semua opak diberi daun kucai. Opak adalah kerupuk khas Wonosobo. Pusat produksinya ada di desa Jolontoro kecamatan Sapuran. Di pasaran dijual matang maupun mentah. Jika anda menggoreng sendiri, jangan sampai gosong. Sebab dengan minyak yang cukup panas, opak mentah kering akan matang hanya dalam waktu kira-kira 7 detik. Sekali goreng, kira kira satu genggam. Opak cocok untuk hidangan di rumah, lebih enak sambil minum teh.Kucai
Ada yang menjual per kilogram, ini opak yang diurai. Ada juga opak yang dirangkai dengan tali bambu. Harganya pun berbeda-beda. Yang bagus ada yang Rp. 7.000,- per/kg. Satu kilogram opak mentah jika digoreng semua, bisa mengembang menjadi dua atau tiga toples besar.

Mie Ongklok
Dari namanya bisa ditebak. Ini makanan dari mie. Namun mie yang satu ini sangat khas dan asli Wonosobo. Cara penyajiannya mirip dengan mie ayam. Bedanya, kalau mie ayam aromanya adalah ayam, sedang mie ongklok aromanya adalah udang kering/ebi.
Mie ongklok dibuat dari dari mie, kol/kubis, cabe, daun kucai dan kuah bumbu kental pedas. Ada juga yang ditambah tahu bacem atau tempe kemul. Disajikan panas-panas.
Sekarang ini, mie ongklok banyak ditemani dengan sate. Sebenarnya, itu makanan yang berbeda. Artinya, anda boleh saja membeli mie ongklok tanpa sate. Sebab memang aneh, mie ongklok sebagai hidangan utama harganya lebih murah dibanding pelengkapnya, yaitu sate. Semangkok mie ongklok kira-kira harganya Rp. 3.500,- atau Rp. 4.000,- . Sedangkan satenya, satu porsi jelas lebih dari Rp. 3.500,-. Bagi yang tidak suka sate, biasanya membeli beberapa porsi mie ongklok dan satenya hanya satu atau dua porsi, atau tidak usah pakai sate sama sekali. Penjual yang baik biasanya bertanya, mau dengan sate apa tidak.
Pertama kali makan mie ongklok orang biasanya masih heran. Sebab makanan ini kuahnya seperti lem kental. Namun kali yang berikutnya biasanya suka. Banyak juga keluarga yang baru ada tamu atau saudara dari luar kota, rame-rame makan mie ongklok, sebagi sajian khas.
Penjual mie ongklok ada yang mangkal atau permanen dan ada pula yang didorong. Seperti penjual mie ayam. Makanan ini biasanya siap dijual kira-kira mulai jam 09.00 sampai malam. Jadi kalau anda mencari mie ongklok dibawah jam 09.00, biasanya masih jarang atau belum siap.
Sebenarnya banyak yang menjual mie ongklok. Namun ada diantaranya yang sudah terkenal. Salah satunya adalah Pak Muhadi di Jl. A Yani, sebelah utara terminal lama. Di Kauman, Longkrang dan seputar Rita Pasaraya juga ada. kemudian, untuk yang dorongan, banyak dijumpai di kampung atau perumahan di siang hari menjelang sore.

Tempe Kemul
Tempe kemul adalah tempe yang diselimuti atau ‘dikemuli’ dengan tepung yang diberi bumbu dan daun kucai. Salah satu bumbunya adalah kunyit sehingga tempe kemul ini warnanya kuning, belang-belang hijau karena ada daun kucainya.
Tempe kemul ini spesifik Wonosobo, tidak ada di daerah lain. Makanan ini sangat populer di Wonosobo sehingga sering djadikan snack pada saat ada rapat, gotong royong, kumpul-kumpul ataupun makanan sehari-hari di rumah. Jarang sekali orang bosan dengan makanan yang satu ini. Maklum, rasanya enak dan gurih. Apalagi dimakan dengan cabe rawit pedas.

Carica
Carica (dibaca: Karika) adalah pepaya khas Dieng. Hanya tumbuh di daerah dingin. Carica ini mirip dengan buah pepaya (Carica Papaya)
Carica ini diolah dan dijadikan manisan carica.

Keripik Jamur
Sesuai dengan namanya, keripik jamur adalah jamur yang dibuat menjadi keripik. Di Wonosobo, sejak dulu budidaya jamur sudah tidak asing lagi. Selain sebagai bahan makanan basah, kini masyarakat Wonosobo sudah lebih inovatif dengan mengolah jamur menjadi keripik.

Kacang Dieng
Sesuai dengan namanya, kacang ini hanya ada di daerah Dieng dan sekitarnya. Rasanya gurih, cocok untuk dimakan di perjalanan atau untuk oleh-oleh. Ada yang menamai kacang ini dengan nama kacang babi. Nama yang aneh, padahal tidak ada sangkut pautnya dengan babi.[Ke atas]

Purwaceng
Purwaceng (Pimpinella Fraucan) adalah tanaman ‘ginseng’ ala Dieng. Disamping sebagai obat tradisional, tanaman ini dijadikan minuman seperti kopi dan dipercaya dapat menambah vitalitas.

Teh
Sebenarnya di tiap daerah ada teh. Namun teh dari Wonosobo rasanya lain-dari yang lain. Terutama teh hitam produksi Tambi. Teh ini diekport ke manca negara. Namun sebagian di jual di pasaran lokal. Pusat penjualannya adalah di koperasi PT Tambi Jl. Tumenggung Jogonegoro, Supermarket, di kios utara Pasar Induk atau di kios oleh-oleh, seperti di Kertek. Ada kemasan dus dan ada kemasan plastik, ukurannya bermacam-macam pula.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: