Jogja kenanganku & istimewa untukku

Desember 2, 2010 at 6:10 am (jalan2.., kenang-kenangan)


Jogja, siapa yang tidak mengenal kota yang satu ini..??

Kota Istimewa Jogja menjadi perbincangan hangat setelah SBY mengeluarkan pernyataan soal penerapan demokrasi dan monarki di Yogyakarta. Menurut pemerintah, ada 7 keistimewaan DIY yang diatur dalam RUU itu. Hanya saja, 1 poin belum mencapai kata sepakat yaitu soal mekanisme pimpinan DIY, apakah lewat penetapan seperti sekarang atau lewat pemilihan/pemilukada. Melihat waktunya pun SBY kurang tepat mengeluarkan pendapat itu, ditengah masyarakat Jogja yg masih berduka karena bencana Gunung Merapi. Menurut saya, biarkanlah Kota Jojga apa adanya.

Jangan usik apa yang ada di Jogja sekarang ini, budaya yang ada sejak dulu bahkan sebelum negara ini merdeka

Kota Jogja adalah kota yang istimewa untuk saya, walaupun sebenarnya Jogja memang kota yang istimewa.Kenapa Jogja istimewa untuk saya ?

Karena di kota inilah kenangan perpisahan sewaktu saya masih duduk di bangku SMP & SMA. Suasana malam di Malioboro, kehangatan suasana Keraton, megahnya candi Prambanan & Borobudur, nikmatnya Gudeg dan ramahya masyarakat Jogja

(Gudeg)

(Keraton)

Sewaktu saya SMP, itu pertama kali saya ke Jogja untuk acara perpisahan sekolah. Sesampainya disana saya langsung merasakan kenyaman kota Gudeg itu.walaupun siang hari agak sedikit panas. Tapi entah mengapa ketika malam hari begitu sejuk. Pernah suatu ketika, saya sempat kaget ketika saya dan 2 teman saya ingin mencari beberapa baju dagadu untuk oleh-oleh, saat itu ada seorang tukang becak menawarkan diri. Saya pun bertanya, “ berapa ongkos untuk keliling Malioboro ? “

tukang becak pun menjawab, “ Rp. 2.000 ( dua ribu rupiah ) “. Saya pun kaget, “ ga salah mas ?! “.

“ ga salah, memang segitu dek, sudah langsung naik aja. Kemana pun ade2 pergi saya antar. “ jawab tukang becak. Mendengar begitu murahnya teman saya langsung ingin buru-buru naik. Kalau membandingkan ongkos dirumah saya bisa 5x lipat dari harga itu. Saya pun bertanya lagi, “ tapi kan ini bertiga, ga salah pak ? yakin kuat pak ? “

Tukang becak jawab lagi,  “  saya kuat, sudah biasa “. Melihat dari postur tubuhnya si tukang becak ini, saya mengira-ngira usia tukang becak ini sekitar 30-40 tahun. Pada saat itu saya ingin membatalkan saja untuk tidak naik becak, lebih baik jalan kaki karena lebih sehat juga. Karena tidak tega dengan melihat tukang becak tersebut. Tapi tukang becak tersebut begitu memaksa, apa boleh buat saya dan 2 orang teman saya pun naik. Dalam perjalanan pun saya sedikit tidak enak hati, takut tukang becak tidak kuat membawa kami betiga, bukan karna berat badan tapi mungkin dosanya yang berat.hahahaaaa..

Dalam perjalanan pun saya and 2 teman sedikit berbincang, saya pun bertanya “ tinggal dimana pak ? ” tukang becak pun menjawab “ rumah saya jauh di Sleman “

Saya dan 2 orang teman saya pun langsung kaget mendengarnya, “ ga salah pak ?? “

Dari Sleman ke Jogja Cuma buat narik becak. Saya tidak habis pikir dari Sleman ke Jogja cuma untuk narik becak. Kalau di pikir secara logika padahal lebih baik narik becak di Sleman daripada harus ke Jogja hanya untuk narik becak, dihitung dari jarak Sleman-Jogja kan lumayan jauh. Dan lebih parah lagi tukang becak tersebut setiap hari mengayuh becak dari Sleman-Jogja PP ( pulang – pergi ) dalam 1 hari. Saya pun begitu kagum dengan perjuangannya.

Menurut saya kenapa bapak tukang becak ini lebih memilih narik becak di Jogja, mungkin ada ikatan batin antara si bapak tukang becak dengan Jogja atau mungkin di Jogja inilah tempat mencari nafkah yang cukup baik untuknya, karena dari setiap pembicaraan kami di perjalanan dia begitu membanggakan Jogja.

( beringin kembar)

( Candi Borobudur)

(Candi prambanan)

Selang tiga tahun saya kembali lagi ke Jogja. Saya kembali ke Jogja dengan acara yang sama yaitu perpisahan sekolah. Tidak begitu banyak yang berubah dari Jogja tapi saya suka itu. Tapi ada yang sedikit berubah dari Jogja, terakhir saya ke Jogja sewaktu saya masih SMP saya ingat betul ongkos naik becak waktu saya masin SMP itu Cuma Rp 2.000, tapi 3 tahun berlalu ketika saya kembali lagi kesini ongkosnya jadi Rp. 5000 .

Ada orang bilang pergi ke Jogja tanpa jalan-jalan ke Malioboro bukan ke Jogja namanya, sewaktu perpisahan SMP saya ke Malioboro, itu pun siang hari. Jadi saya tidak bias menikmati suasana Malioboro pada malam hari. Ketika acara perpisahan SMA saya baru bias menikmati suasana malam di Malioboro, saya pergi bersama 4 teman dan 1 guru perempuan yang menurut saya mengerti kemauan anak didiknya. Walaupun bersama seorang guru kami tidak canggung, pergi bersama guru yang satu ini seperti pergi bersama teman seumuran kami, ya bias di bilang guru gaul. Di tambah lagi karena guru kami ini masih single.hehehe..

Saat itu bertepatan dengan malam minggu. Suasana malam hari di Malioboro buat saya luar biasa, gadis-gadis Jogja juga cantik & ayu

Malioboro selain tempat wisata juga sebagai tempat berkumpul anak muda Jogja dari berbagai kalangan. Ada turis, komunitas motor, anak-anak punk, disana saya juga melihat para pengemar sepeda ontel.

(Suasana Siang hari di Malioboro)

(Suasana malam hari di Malioboro)

Semakin malam suasana semakin ramai, mungkin karena bertepatan dengan malam minggu. Tidak tahu kenapa, rasanya saya dan yang lain tidak ingin kesenangan ini  cepat berlalu. Saya begitu nyaman berada di Jogja. Tak terasa adzan shubuh terdengar, berat sekali saya meninggalkan Malioboro.

Tapi saya harus depat kembali ke hotel tempat saya menginap. Karena sekitar jam 9.00 pagi kami semua harus kembali ke Tangerang. Sedikit pengalaman saya tentang Jogja, tapi buat saya Jogja luar biasa. Karena memberikan saya begitu banyak kenangan. Memang Jogja kota yang Istimewa, tapi untuk saya Jogja sangat istimewa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: